(19) Apa Kabar Inflasi 2020
Awal tahun ini masyarakat dihadapkan dengan kenaikan berbagai komoditas, diantaranya
kenaikan BPJS, kenaikan cukai rokok, dan kenaikan sebagian rute jalan tol. Menjadi sebuah tantangan yang perlu
dicermati oleh pemerintah jika tidak ingin target inflasi 2020 meleset.
Bank
Indonesia (BI) memproyeksikan angka inflasi pada 2020 berkisar pada angka 3% (±1%). Target
inflasi sebesar ini didasarkan pada perkembangan inflasi 2019 yang cukup rendah.
Hal ini juga didukung oleh inflasi inti yang terkendali sejalan dengan
kapasitas produksi domestik dan juga distribusi barang dan jasa yang membaik.
Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
Jika melihat
perkembangan inflasi di 2019 hampir semua daerah pantauan inflasi memenuhi
target inflasi 2019 sebesar 3,5% (±1%) sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto
dalam rilis inflasi pada awal Januari 2020 di Kantor BPS. Dalam rilisnya
disampaikan dari 82 kota pantauan inflasi yang mengalami inflasi tahunan tertinggi
adalah Kota Manokwari sebesar 4,76 %, diikuti Kota Bekasi dan Kota Meulaboh
masing-masing sebesar 4,28%. Artinya hanya Kota Manokwari yang tidak memenuhi
target inflasi 2019. Secara nasional, angka inflasi tahunan 2019 sebesar 2,72%.
Sehingga wajar jika BI menetapkan proyeksi inflasi 2020 lebih kecil daripada proyeksi
inflasi 2019.
Inflasi sejatinya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Inflasi dapat memperlihatkan peningkatan atau
penurunan permintaan terkait komoditi di masyarakat, juga menjadi indikator
perekonomian di suatu wilayah. Inflasi adalah satu indikator statistik yang sangat penting sehingga perlu mendapat
perhatian ekstra. Inflasi ibarat termometer yang bisa mengukur suhu perekonomian
apakah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Inflasi layaknya suhu tubuh memang hanya perlu dikendalikan bukan diturunkan
serendah-rendahnya apalagi dihilangkan.
Kenaikan Harga Awal Tahun
Awal tahun
2020 masyarakat dihadapkan oleh kenaikan beberapa komoditas utama khususnya administered price atau harga yang
ditentukan oleh pemerintah . Sebut saja naiknya tarif BPJS, kenaikan cukai
rokok, naiknya tarif tol cikopo-palimanan dan juga beberapa komoditas bahan
makanan seperti cabe rawit, cabe merah, dan daging ayam ras. Tarif listrik juga
santer diberitakan naik, untung saja dibatalkan untuk sementara waktu menunggu
kajian yang dari PLN dan Kementerian ESDM.
Kenaikan
komoditas tentu saja berdampak terhadap laju inflasi. Apalagi jika komoditas
tersebut adalah kebutuhan utama masyarakat. Salah satu yang akan sangat berpengaruh
terhadap inflasi secara nasional adalah kenaikan cukai rokok. Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai (DJBC) Kementrian Keuangan menetapkan kenaikan tarif cukai hasil
tembakau sebesar 23 %. Hal ini akan berakibat terhadap kenaikan harga jual
eceran rokok sebesar 35 %. Tidak bisa dipungkiri, rokok adalah salah satu komoditas
utama masyarakat Indonesia. Sekuat apapun kampanye anti rokok di Indonesia
belum signifikan menurunkan jumlah konsumsi rokok. Sehingga mau tidak mau bobot
rokok terhadap angka inflasi cukup besar. Yang artinya kenaikan harga eceran
rokok akan berdampak signifikan terhadap angka inflasi.
Kenaikan
harga untuk komoditas administered price memang
menjadi sebuah tantangan bagi pengendalian inflasi. Berbeda dengan pengendalian
harga komoditas yang bergejolak seperti pangan Harga rokok, tarif tol, dan tarif
listrik, adalah contoh komoditas administered
price yang secara alami hampir tidak pernah mengalami penurunan kembali
setelah mengalami kenaikan. Sehinga ketika diawal tahun menyumbang inflasi maka
sepanjang tahun akan sulit mengandalkan komoditas tersebut untuk menahan laju
inflasi. Berbeda dengan komoditas pangan yang selalu mengalami fluktuasi harga.
Ketika mengalami kenaikan di awal tahun dan menyumbang andil inflasi, pada
bulan-bulan selanjutnya bisa mengalami penurunan dan menyumbang andil deflasi. Kejadian
inflasi beras di awal tahun 2018 yang sempat membuat tensi tinggi inflasi
nasional saat itu bisa menjadi contoh.
Tantangan Inflasi 2020
Selain kenaikan
harga administered price, awal tahun
2020 juga dihadapkan dengan berbagai tantangan. Cuaca yang kurang bersahabat
menjadi sebuah hal yang perlu dibuatkan mitigasi resikonya. Khususnya terhadap
ketersediaan stok pangan dan kebutuhan masyarakat lainnya. Jika terlambat
mengantispasi bukan tidak mungkin akan muncul permasalahan lain.
Banjir di
Jakarta beberapa waktu lalu menyadarkan kita bahwa Indonesia sangat rentan
terhadap bencana alam. Jika Jakarta yang secara infrastruktur sudah sangat
bagus bisa lumpuh akibat banjir, bagaimana dengan daerah lain yang belum sebagus
Jakarta secara infrastruktur. Apalagi jika bencana alam terjadi di sentra
pertanian atau sentra bahan baku industri maka akan sangat berpengaruh terhadap
suplai komoditas kebutuhan masyarakat. Pemerintah dapat melakukan antisipasi
antara lain dengan menyiapkan gudang-gudang di daerah untuk menampung stok
kebutuhan pangan masyarakat. Melakukan impor lebih awal untuk komoditas yang
memang secara penyediaan belum bisa dipenuhi dari dalam negeri. Memperkuat daya
tahan pelalu usaha di semua sektor mulai dari pertanian, industri dan
perdagangan. Selalu berkordiasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan
monitoring secara bersama dan berkala agar jika terjadi permasalahan bisa segera
dilakukan langkah-langkah strategis.
Peluang menahan
inflasi di awal 2020 sangat terbuka. Dan ini harus dilakukan agar target
inflasi yang ditetapkan pemerintah
melalui BI bisa tercapai di akhir tahun. Jika ada komoditas yang terpaksa mengalami kenaikan maka pemerintah harus
mencegah efek domino agar tidak terlalu berimbas terhadap komoditas lainnya. Kebijakan
pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi pada awal
tahun ini juga merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi beban pengeluaran
masyarakat.
Kenaikan
harga komoditas bukan sesuatu yang harus dihindari. Akan tetapi perlu dicermati
sejauh mana daya tahan masyarakat terhadap kenaikan harga tersebut. Kenaikan
harga akan berpengaruh terhadap inflasi, tapi sejauh inflasi masih terkendali
artinya masyarakat masih bisa mengikuti pergerakan harga tersebut. Jika inflasi
tak terkedali maka akan sangat berpengaruh terhdap daya beli masyarakat. Ketika
daya beli masyarakat menurun maka konsumsi juga menurun. Jika konsumsi masyarakat
menurun akan menjadi salah satu faktor yang dapat memperlambat pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
Semoga di
awal tahun 2020 ini semua pihak dapat membuat mitigasi dan perencanaan yang
tepat terkait pengendalian inflasi. Jika inflasi terkendali, akan menjadi salah
satu faktor yang membantu kelangsungan konsumsi masyarakat secara umum.
Sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat dari sisi konsumsi dapat terjaga
dengan baik.
Penulis:
Muhamad Rikiansyah, S.Ikom
Humas & Statistisi di Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat
Muhamad Rikiansyah, S.Ikom
Humas & Statistisi di Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Komentar
Posting Komentar